Tak lengkap rasanya apabila Anda mengunjungi kota Palembang namun tidak menyempatkan untuk melihat kemegahan serta kemolekan dari Jembatan Ampera yang akan lebih indah jika malam hari.
Jembatan yang panjangnya 1.117 meter dengan lebar 22 meter ini membentang dari seberang hulu ke seberang hilir kota Palembang. Dan tahukah Anda dana yang dianggarkan pertama kali ditahun 1957 untuk membangun proyek prestisius dieranya ini hanya ada sekitar Rp. 30.000 saja.
Atas desakan Gubernur Sumsel H.A Bastari dan Panglima Kodam IV Sriwijaya Harun Sohar kala itu, maka Presiden Soekarno menyetujui anggaran dana sebesar Rp. 4.500.000 ditahun 1961, dimana saat itu Kurs Rp.200 = USD 1.
Lihat Peta Lebih Besar
Ampera dahulu disebut dengan jembatan Musi dan pernah juga diberi nama sebagai Jembatan Bung Karno. Ditahun 1965 proyek pembangunan jembatan musi rampung dan sekaligus mengukuhkan jembatan Ampera sebagai jembatan terpanjang di Asia Tenggara saat itu. Lalu setelah terjadinya pergolakan di tahun 1965 maka jembatan itu diubah namanya menjadi Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat disingkat Ampera seperti yang kita kenal saat ini.
Dahulu ketika kota Palembang belum sepadat ini, bagian tengah jembatan bisa dinaikan keatas ketika ada kapal besar yang hendak melintas dibawahnya, namun seiiring dengan kemajuan kota maka hal itu tidak mungkin bisa terjadi lagi mengingat kawasan Ampera merupakan jantungnya kota Palembang. Dan lagi pula semua mesin untuk mengangkat bagian tengah tersebut telah rusak dan keropos dimakan usia.
*Materi dan Photo diambil dari berbagai sumber dan sebagian merupakan hak cipta